RembrandtHarmenszoon van Rijn adalah pelukis Belanda yang merupakan salah satu pelukis terbesar dalam sejarah seni Eropa. Kontribusinya yang besar terhadap seni rupa terjadi pada era keemasan Belanda. beberapa karyanya yang terkenal antara lain An Artist in His Studio (The Museum of Fine Arts, Boston, Massachusetts), dan The Raising of Lazarus Salahsatu ciri khas periode Barok adalah kebebasan para seniman dalam mengerkspresikan diri melalui karya-karya mereka sehingga karya tersebut umumnya lebih hidup. Pada masa ini banya dibangun istana-istana, gereja, serta bangunan-bangunan besar yang indah. Ditengah keterbatasan ini pun, beberapa waktu lalu PT Trimedia Imaji Rekso Abadi meluncurkan campaign kolaborasi dengan para seniman Jakarta dalam ekshibisi instalasi seni pada pilar MRT. Mengusung tagar #UntungGuediJakarta, kampanye ini digerakkan untuk mendukung para seniman yang membutuhkan medium berekspresi melalui karya mereka di masa Misalnya aliran B muncul karena merasa aliran A sudah tidak relevan dengan keadaan zaman, atau terlalu memojokan kaum tertentu, Aliran C muncul karena merasa keduanya sempurna jika digabungkan. Aliran atau mazhab seni lukis juga selalu dipengaruhi atau dapat dikatakan dibentuk oleh keadaan masyarakat di suatu masa. salahseorang ahli tafsir pertama dan termashur pada masa tersebut adalah ibnu abbas. salah satu bukti perkembangan islam di dunia internasional sampai saat ini adalah berdirinya universitas paris pada tahun 1231 masehi. masa itu, bahkan merupakan puncak kemajuan ilmu pengetahuan, kesenian, dan kebudayaan spanyol islam. Source: online.pubhtml5.com jGHPc. Raden Saleh lahir di Semarang tahun 1811. Ia belajar melukis dari pelukis Belgia, A. Payen, hingga sekitar tahun 1826. Ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Eropa, termasuk Paris. Beasiswa itu diberikan padanya dari para inspektur kolonial Belanda, setelah tiga tahun belajar melukis dari dan datang ke Belanda. Tak hanya beasiswa, ia juga direkomendasikan kepada orang-orang penting Belanda seperti Baron Fagel, Dubes Belanda untuk Prancis, dan Baron de Vexela, yang menundukkan pemberontakan Pangeran Diponegoro di Jawa. Tahun 1845 ia mulai melukis sebuah kanvas besar, berjudul Chasse au cerf Perburuan rusa, yang dipersembahkan kepada Raja Belanda, juga Chasse au tigre Perburuan harimau yang telah dibeli oleh Raja Louise-Philippe di tahun 1864 dengan harga relatif tinggi atas saran Clementine, yang menyokong sang pelukis. Di tahun 1847, lukisannya yang berjudul Perburuan Rusa di Pulau Jawa dipamerkan dalam pameran tahunan yang berlangsung di Museum Louvre. Lukisan itu berukuran 293 cm x 246 cm, dan disambut hangat oleh publik dan dibeli oleh Raja Louis-Philippe dengan harga 300 francs. Baca juga Raden Saleh, Kemasyhuran Pelukis Jawa yang Terlupakan Lukisan karya Raden Saleh yang menampilkan suasana kacau saat perburuan di lanskap Jawa masa lampau ini dibuat litografinya oleh Mieling sekitar 1865-1876, berjudul Eene Jagt op Java Suatu Perburuan di Jawa. Koleksi KITLV/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies Namun bakat dan ketenarannya tak dapat mencegah kerinduannya kepada kampung halamannya. Ia mulai menunjukkan tanda-tanda keengganan dengan kehidupannya di Paris dan kurang menaruh perhatian pada diri sendiri. Ia sedih dan kesepian, dan ingin kembali ke Jawa untuk bertemu keluarganya. Satu lukisannya, Berburu Singa di Jawa, tidak dapat dibuat dalam kondisi di mana terjadi pertikaian dan masalah politik di Paris. Peristiwa ini terjadi pada Februari 1848 dan mengakibatkan Raja Louis-Philippe diasingkan. Tetapi Raden Saleh mengirimkan lukisan itu kepada Raja Willem III dari Belanda, dan segera diterima oleh sang raja dan diletakkan di Rijkmuseum, Belanda. Di tahun 1931 lukisan itu kembali ke Paris untuk yang terakhir kalinya dalam pameran kolonial. Kemudian lukisan itu hancur terbakar karena kebakaran yang melanda paviliun di Belanda. Baca juga Pionir di Celah Dua Loka!break! Paviliun yang dikenal sebagai Masjid Biru ini dibangun di Maxen, dekat Dresden, Jerman. Mayor Serre mendedikasikan masjid ini untuk Raden Saleh pada 1848. Koleksi Jutta Tronicke Tahun 1848 akhirnya Raden Saleh kembali ke Jawa, dan di sana ia tak pernah menghubungi kenalan-kenalannya di Paris. Hingga 20 tahun kemudian, tepatnya tahun 1869, ia menghubungi Konsul Jenderal Prancis di Batavia, Duschene de Bellecourt, untuk memberikan dua lukisan barunya pada Napoleon III sebagai ucapan terima kasihnya atas sambutan bersahabat dari bangsa Prancis kepadanya 20 tahun yang lalu. Setelah menerima lukisan-lukisan tersebut, Napoleon III segera mengirimnya dengan kapal Capitole, dan setiba kedua lukisan itu di Paris Juni 1870 keduanya langsung dipamerkan di istana Tuileries. Sayangnya pernyataan perang antara Prancis dan Prusia menyebabkan istana Tuileries terbakar, bersama dengan kedua lukisan indah milik Raden Saleh di dalamnya. Juli 1875, Raden Saleh kembali ke Paris untuk yang terakhir kalinya. Ia ingin mencari tahu keberadaan dua lukisan yang habis terbakar itu. Ia menjadi kurang beruntung dengan pecahnya Revolusi Prancis. Namun, akhirnya ia berhasil menjual lukisannya berjudul Berburu Singa di Jawa seharga euro atau sekitar US$ ke Jerman. PROMOTED CONTENT Video Pilihan Ilustrasi pelukis Dullah. Betaria Sarulina/Historia. Nama pelukis Dullah memang tak lebih populer dibanding nama “Dullah” lain Sudjono Abdullah, Basuki Abdullah, apalagi Abdullah Suriosubroto yang lebih senior. Dullah yang satu ini memang terpinggirkan dari wacana seni lukis Indonesia sejak Orde Baru mulai mempreteli pengaruh Sukarno. Pelukis kelahiran Surakarta, 17 September 1919 ini memang dekat dengan Sukarno. Pada 1950, ia diangkat oleh Sukarno menjadi pelukis istana. Karya-karyanya sering dianggap kiri dan revolusioner, berbeda dari para karya para pelukis mooi indie yang kala itu gemar menggambarkan pemandangan Indonesia nan permai. Kritikus seni Agus Dermawan T dalam Diskusi Daring Peringatan 100 Tahun Pelukis Dullah 1919-2019, Sabtu 19 September 2020, menyebut Dullah memang kurang disukai pada masa Orde Baru. Ketika berkuliah di kampus Akademi Seni Rupa Indonesia ASRI, Agus bahkan hampir tak pernah mendengar nama Dullah. “Karena menurut saya mereka memang tidak menyukai karya-karya yang bersifat revolusioner. Atau bahkan kalau Pak Dullah itu menggambarkan pemandangan, adalah pemandangan di kampung-kampung yang cenderung kumuh,” kata Agus. Ada cerita menarik mengenai lukisan revolusioner Dullah. Suatu hari, datang seorang sahabat kepada Dullah. Orang itu memohon agar dapat membeli lukisan Dullah. Dengan uang yang tak seberapa, ia mohon untuk diberikan lukisan yang mana saja. Lukisan itu nantinya akan dijual lagi untuk membiayai renovasi rumah. Tak disangka, Dullah memberinya tiga lukisan. Dua lukisan dipersilahkannya untuk dijual. Dullah bahkan menyertakan nama-nama kolektor yang siap membeli lukisan beserta kisaran harga tiap lukisan itu. Sedangkan satu lukisan sisanya, Dullah memintanya agar disimpan. Lukisan terakhir itu menggambarkan wajah seorang anak yang terlihat menderita. Menurut Dullah, lukisan ini sangat revolusioner. Oleh karenanya ia minta agar disimpan. Bagi Dullah, lukisan revolusioner itu bukan melulu lukisan yang bercerita mengenai peperangan, revolusi, maupun menggambarkan ideologi tertentu. Baca juga Kisah Bung Dullah dalam Lukisan Sudjojono “Tetapi mengenai rakyat. Bagi Pak Dullah, lukisan wajah rakyat atau lukisan wajah kaum Marhaen, dia suka menyebut itu, walau tidak berada dalam setting revolusi adalah lukisan revolusioner juga,” terang Agus yang juga baru saja menerbitkan buku Dongeng Dari Dullah. Dullah menyukai lukisan-lukisan realis dari Uni Soviet abad ke-19 yang memiliki atmosfer yang menggambarkan penderitaan rakyat, mulai dari lukisan nasib petani di bawah kuasa tuan tanah hingga penderitan rakyat kecil lainnya. Dari situlah ia merasa cocok dengan gaya realis yang menggambarkan keadaan yang memang sedang terjadi di kehidupan masyarakat. Eka Putra Bhuwana, keponakan Dullah yang juga pernah diajak tinggal di Istana, menyebut bahwa pekerjaan Dullah bukan hanya melukis. Ia juga turut mengurusi segala tetek bengek dekorasi istana. Dalam perayaan 17 Agustus, Dullah seringkali mengurusi panggung, dekorasi hingga lampu-lampu. Baca juga Pelukis Istana Asal Negeri Sutera Eka punya cerita menarik tentang Dullah di istana. Pernah suatu ketika Dullah butuh waktu satu tahun untuk meletakkan satu lukisan saja. Itu terjadi ketika Dullah ditugasi memilih lukisan untuk dipajang di salah satu dinding istana. Tempat inilah, yang ketika Bung Karno duduk, akan langsung menghadap lukisan. Mencari lukisan yang pas untuk dinding itu ternyata tidak mudah. “Suatu saat setelah setahun, dipilihkan lukisan pengemis karya Affandi kalau nggak salah. Itu yang dipilih. Wah ini baru cocok. Karena apa? Kita akan selalu teringat rakyat, kita selalu ingat orang lain,” ungkap Eka. Sukarno memang pecinta lukisan dan Dullah punya peran penting dalam urusan ini hingga 1960. “Dullah juga bercerita bahwa Bung Karno kalau memikirkan negara dia selalu duduk dan memandang lukisan, urusan negara bisa selesai,” kata Eka. Dullah sering diajak Bung Karno berpergian. Ketika Bung Karno pidato di depan satu sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB, Dullah diminta untuk memantau situasi ruang sidang. Dullah lalu kembali dan menyarankan Bung Karno memakai jas warna putih karena sebagian besar orang memakai jas warna gelap. Maka tampilah Bung Karno menonjol dengan jas warna putih. Baca juga Sudjojono, Proklamator Seni Rupa Modern Indonesia Sekira sepuluh tahun Dullah menjadi pelukis istana dan membuatnya begitu dekat dengan Sukarno. Tiap kali Dullah hendak memasang pigura, misalnya, Sukarno seringkali datang untuk melihat secara langsung. “Dan kedekatan itu dikenal sekali oleh kalangan seniman yang seusia Pak Dullah pada waktu itu dan dianggap itu satu indikasi dari kesamaan politik. Sehingga Pak Dullah dianggap bagian dari Orde Sukarno yang pada masa Orde Baru menjadi lawan politik Sukarno,” jelas Agus. Meski dianggap pelukis kiri, dekat dengan Sukarno, dan sering dihubungkan dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat LEKRA, menurut Agus, Dullah sebenarnya tidak berpolitik. Dullah sering melukis tema-tema revolusioner sebagai bagian dari kerja merekam sejarah. Dullah meninggal dunia di Yogyakarta, 1 Januari 1996. Semasa hidupnya dia mendidirikan Museum Dullah di Surakarta. Tujuannya, sebagai bentuk pelestarian warisan sejarah khususnya sejarah seni di Indonesia. Koleksi Caspar Schmalkalden Lukisan cat air bertuliskan Rhinoceros, Ein Nasenhorn. Javanisch Bada. Maleyisch Badack. Lukisan ini karya seniman Cina ini menjadi bagian koleksi Caspar Schmalkalden, yang tinggal di Batavia sepanjang 1646 sampai 1651. mamalia besar asal Asia yang pertama kali dilukis oleh orang Eropa di daratan Eropa? Jawabnya, badak bercula satu—asal India. Badak itu dikirim dengan kapal bermuatan rempah-rempah dari habitat asalnya di India. Setelah empat bulan melayari Jalur Rempah menuju Eropa, pada Mei 1515 sang badak berjejak di Portugal. Orang Eropa tidak pernah melihat badak sebelumnya. Sejak zaman Romawi, mereka menganggap satwa bercula itu laksana adisatwa atau binatang mitos—seperti dongeng unicorn. Salah satu seniman yang melukis badak dengan proporsi tepat adalah Albrecht Durer 1471 – 1528. Lelaki asal Jerman itu seorang pelukis, juru gambar, dan penulis yang brilian. Pada 1515 Durer berkesempatan melukis badak, yang begitu eksotis untuk ukuran orang Eropa. Lukisan badaknya begitu sohor sehingga menjadi inspirasi karya seniman lainnya. “Durer belum pernah melihat badak asli, namun dia hanya mengandalkan deskripsi,” ungkap Werner Kraus. “Dia membuat lukisan badaknya dengan cula kecil di lehernya. Selama lebih dari dua abad kesalahan ini terulang kembali oleh hampir semua seniman Eropa.” Kraus begitu berminat pada perkembangan seni modern di Indonesia. Dia menjabat sebagai Director of the Centre for Southeast Asian Art in Passau, Jerman. Kisah utama ini dinukil dari pemaparannya bertajuk Chinese Influence on Early Modern Indonesian Art? Hou Qua A Chinese Painter in 19th-century Java yang terbit di Archipel pada 2005. Baca Juga Teh Tayu, Warisan Budaya Tionghoa Bangka yang Menggantikan Timah National Gallery of Art Lukisan berjudul Rhinocerus karya Albrecht Durer 1471 – 1528 pada 1515. Lelaki Jerman itu tidak menyaksikan langsung satwa ini sehingga uncul cula lain di bagian tengkuknya. Kesalahan ini baru dikoreksi setelah dua abad lamanya. Apa mamalia besar asal Jawa yang pertama kali diabadikan sebagai lukisan? Jawabnya, badak bercula satu—di sekitar Batavia. Seniman yang melukisnya adalah orang Cina yang bermukim di Batavia. Lukisan badak itu mengarah ke kanan bertajuk “Rhinoceros, Ein Nasenhorn. Javanisch Bada. Maleyisch Badack”. Inilah lukisan cat air paling awal yang dibuat oleh orang Cina yang berjejak di Jawa. Kita bisa menyaksikan lukisan bersejarah itu berkat koleksi manuskrip milik Caspar Schmalkalden, yang tinggal di Hindia Timur antara 1646 dan 1651. Ia memberikan testimoni tentang lukisan cat air koleksinya "Badak ini dilukis oleh pelukis Cina yang mengabadikan alam di Batavia." PROMOTED CONTENT Video Pilihan

salah satu pelukis pada zaman baru adalah